Pemerintah Provinsi Maluku menetapkan perayaan 7 Syawal Pukana di Negeri Larike sebagai simbol pemersatu dan pengikat kerukunan antarwarga. Dalam kunjungannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa tradisi ini adalah ruang penting untuk memaknai budaya sebagai kekuatan pemersatu bangsa.
Beliau mengajak seluruh masyarakat Maluku, khususnya warga Larike, untuk terus merawat adat dan tradisi sebagai fondasi memperkuat silaturahim dan hubungan pela gandong. Menurutnya, pembangunan fisik tidak akan berarti apabila masyarakat abai merawat ikatan sosial.
Perayaan 7 Syawal Pukana merupakan ungkapan kegembiraan masyarakat Larike tujuh hari setelah Idul Fitri. Acara ini menampilkan berbagai kesenian seperti tarian tradisional, tabuhan rebana, hingga atraksi pencak silat yang selalu menjadi pusat perhatian warga dan pengunjung.
Selain menjadi ajang silaturahim, kegiatan ini juga membuka peluang promosi budaya dan pariwisata Negeri Larike kepada masyarakat luas.
Melalui momentum budaya ini, masyarakat diingatkan untuk tetap menjunjung persatuan tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Setiap perbedaan hendaknya diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku, sebagai bagian dari komitmen menjaga kedamaian dan harmoni di negeri ini.